Pembuktian adalah Kunci dari Kebenaran

 In Hukum lain-lain

Banyak pihak masih menganggap bahwa peran advokat adalah membela dan memenangkan yang bayar, dan faktanya memang sebagian besar masyarakat menganggap bahwa advokat yang hebat adalah yang selalu memenangkan perkara yang ditangani. Munculnya anggapan itu memang tidak bisa disalahkan, tetapi pun tidak bisa dibenarkan, karena memang berperkara itu bukan sal kalah/menang melainkan seberapa jauh hak-hak klien terpenuhi.
Bagi advokat, memenangkan perkara bukan hal yang sulit karena setiap perkara memiliki dimensinya masing-masing. Adalah kemampuan dari advokat untuk menentukan dari dimensi mana dia akan memenangkan perkara. Perkara yang bagi masyarakat awam dianggap bakal kalah, namun di mata hukum belum tentu sesuai harapan masyarakat. Bahkan yang dianggap salah oleh masyarakat, belum tentu juga salah di mata hukum.
Lalu hal apa yang paling menentukan menang/kalah suatu perkara? Kuncinya adalah pada kekuatan pembuktian. Sehebat apapun advokat, semahal apapun bayarannya, tidak akan bisa berbuat banyak jika sebuah perbuatan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Advokat bisa membuat dokumen gugatan, eksepsi, replik, duplik, pembelaan, hingga kesimpulan dengan baik dan rapi. Namun, dokumen itu hanya akan menjadi kumpulan kertas tanpa kekuatan apapun jika tidak mampu membuat pembuktian yang membenarkan perbuatan tersebut. Sehingga ketika calon klien datang untuk konsultasi hal yang pertama akan ditanyakan oleh seorang advokat adalah alat bukti yang dimiliki apa saja. Karena alat bukti ini untuk mengukur seberapa kuat posisi dari calon klien, sehingga beberapa advokat kemudian menolak menangani ketika dianggap posisinya lemah dan berpotensi kalah. Advokat akan lebih memandang pada calon klien yang membawa setumpuk berkas karena ketidakmampuannya bercerita, dibandingkan dengan calon klien yang mampu bercerita seperti drama tapi tidak bisa membuktikan apa yang diceritakannya. Ya, karena pada prinsipnya siapa yang membuat tuduhan atau gugatan dia yang harus membuktikan.
Apa saja yang bisa menjadi alat bukti?
Dalam hukum perdata, tentang alat bukti diatur dalam pasal 164 Herzien Inslandsch Reglement (HIR) serta 1886 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer) yaitu: Surat, Saksi, Persangkaan, Pengakuan, Sumpah. Sedangkan dalam hukum pidana dimuat dalam pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yaitu: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.
Bagaimana bisa mengukur kekuatan alat bukti untuk pembuktian?
Dalam hukum acara perdata, kebenaran yang ingin dicapai adalah kebenaran formil. Artinya para pihak harus bisa membuktikan atas apa yang dimintakan di pengadilan, karena hakim tidak akan mengadili apa yang tidak diminta. Sehingga alat bukti terkuat dalam hukum acara perdata adalah surat, kemudian saksi, dan seterusnya. Meskipun kuat, surat tidak bisa berdiri sendiri sebagai alat bukti, sehingga keterangan saksi akan bisa melengkapi dan memperkuat ketersediaan bukti surat tersebut.
Sedangkan dalam hukum acara pidana, kebenaran yang ingin dicapai adalah kebenaran materiil dimana proses akan benar-benar dilanjutkan ketika sudah bisa dibuktikan sejak awal bahwa perbuatan pidana dilakukan oleh pihak yang tepat. Artinya dibuktikan dulu baru seseorang bisa disangka, didakwa kemudian dituntut pidana. dalam hukum pidana berlaku asas tiada pidana tanpa kesalahan, yang artinya seseorang hanya bisa dipidana ketika dalam perbuatannya terdapat kesalahan. Dan untuk membuktikan adanya kesalahan tersebut, keterangan saksi adalah bukti terkuat dalam hukum pidana. dan untuk mendapatkan kebenaran materiil tersebut, keterangan dari satu saksi tidak cukup untuk membuktikan kebenarannya, harus ada keterangan dari saksi lain. Dalam hal kesaksian ini hukum acara pidana menganut asas unus testis nullus testis yang artinya satu saksi bukan saksi. Maka sejak dilakukan penyelidikan dan penyidikan penyidik akan memanggil saksi sebanyak-banyaknya untuk bisa memastikan bahwa perbuatan seseorang memiliki kesalahan.
Oleh karena itu, jika merasa tidak memiliki kekuatan dalam pembuktian akan lebih baik untuk mencoba realistis dan jangan memaksakan kepada advokat untuk memenangkan dengan menghalalkan segala cara.

*Tulisan ini tidak bisa dijadikan rujukan ilmiah dan bukan merupakan advice menyeluruh terhadap sebuah perkara. untuk keterangan lebih lanjut silahkan hubungi kami. 

Recommended Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Start typing and press Enter to search