Memulai bisnis lawfirm dari 0? siapa takut

 In Hukum lain-lain

talkshow Law Firm Morphosis

Bagaimanakah sebuah bisnis lawfirm bisa dianggap sukses?

Jika pertanyaan itu ditujukan kepada masyarakat umum, bisa jadi jawabannya adalah terkenal, banyak mendampingi pejabat atau artis, sering memenangkan perkara, memiliki kantor besar serta jumlah advokat banyak. Dan tidak bisa dipungkiri, ketenaran lawfirm dan para pengacaranya, seringnya memenangkan kasus, seringkali menjadi referensi masyarakat untuk menggunakan jasa advokat. Mereka rela membayar mahal (karena memang tidak ada standar harga layanan jasa advokat) untuk mendapatkan layanan dari advokat terkenal. Mahalnya jasa advokat seringkali menjadikan masyarakat (terutama pengusaha) berfikir strategis dengan mencoba untuk mempelajari seluk-beluk hukum secara otodidak, sehingga tidak semua masalah mereka harus diselesaikan dengan menggunakan jasa advokat.

Namun seiring dengan berkembangnya dunia digital, bisnis lawfirm terlihat sangat menjanjikan. Karena masyarakat sudah dihadapkan dengan berbagai pilihan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Ketenaran saat ini sudah tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran bahwa seorang advokat itu berkualitas. Melalui jejak digital, calon klien bisa menilai siapakah advokat yang tepat untuk membantu menyelesaikan masalahnya.  Lawfirm yang modern, tentu perlu membangun portofolio bisnisnya dengan memanfaatkan teknologi digital tersebut.

Advokat memang tidak diperkenankan untuk memasang iklan untuk menarik perhatian, sebagaimana diatur dalam kode etik advokat pasal 8 huruf b. Lalu apakah digital marketing itu menyalai kode etik tersebut? Belum tentu, karena konten digital marketing tidak melulu soal iklan. Digital marketing adalah upaya membangn citra advokat sekaligus memberikan pendidikan hukum kepada masyarakat pengguna internet. Digital marketing adalah upaya untuk meninggalkan jejak – jejak digital baik secara individu maupun secara kelompok. Digital marketing adalah sebuah cara untuk menggambarkan kompetensi advokat secara transparan. Masyarakat akan menilai sendiri, dan memutuskan tanpa ada paksaan.

Pada akhirnya, kerja advokat bukanlah kerja individual, sehingga dibutuhkan sebuah tim yang solid. Kesolidan tim akan mudah terlihat ketika mampu menarasikan dalam sebuah platform digital yang memungkinkan masyarakat bisa mengaksesnya. Lalu bagaimana ketika lawfirm masih baru dan belum banyak memiliki rekan sehingga tidak memungkinkan membuat tim? Digital network akan mempertemukan dengan profesional-profesional yang bisa untuk dijadikan mitra kolaborasi. Karena jelas, pengguna jasa advokat akan lebih senang dengan sistem layanan satu atap untuk semua masalah hukumnya, sehingga mereka akan cenderung mencari lawfirm yang memiliki tim yang memiliki aneka ragam spesialisasi. Tidak perlu merasa minder dengan lawfirm-lawfirm yang sudah lama eksis dan memiliki banyak klien, mereka semua juga memulai dari kecil. Mereka menjadi besar karena menanamkan nilai yang kemudian nilai tersebut menjadi dasar langkah dalam melakukan pekerjaan. Karena nilai yang mereka tanamkan itulah yang menjadikan mereka besar dan banyak advokat yang melamar untuk menjadi bagian dari lawfirm mereka. Semua itu proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran, sehingga yang perlu dilakukan sebagai advokat yang memiliki lawfirm sendiri adalah tetap memperkuat kapasitas diri, dan menemu-kenali sejauh mana keahlian yang kita miliki, sehingga kita bisa mengetahui siapa yang memungkinkan untuk menjadi mitra kolaborasi.

Ini Tipsnya Menciptakan Lawfirm yang Punya Diferensiasi

*tulisan ini hanyalah catatan kecil setelah mengikuti talkshow Law Firm Morphosis yang diselenggarakan oleh kliklegal pada tanggal 7 Juni 2018, di Unicorn Co-working space, 18 Office park.

 

Recommended Posts

Leave a Comment

Start typing and press Enter to search