Masyarakat saat ini mulai bergeser ke arah fintech (financial technologi) yang berbasis aplikasi untuk ponsel, salah satu alasan terbesarnya adalah kemudahan. Kemudahan disini dalam arti cepat, tidak ribet, dan tanpa jaminan. Berdasarkan penelusuran pada beberapa pltaform aplikasi fintech yang tersedia di playstore, rata-rata review dari pengguna adalah positif dimana tidak perlu menunggu waktu lama dana sudah ditransfer ke rekening nasabah tanpa harus keluar rumah. Namun, pernahkah mereka berfikir tentang resiko yang akan dialami jika terjadi masalah? Pernahkah kita menelusuri kenapa hingga para provider fintech ini berani memberikan kredit tanpa jaminan? Mari kita mencoba untuk menelisik bagaimana bisnis fintech ini bekerja.

Ada berbagai platform aplikasi fintech yang sdah tersedia di playstore ponsel pintar. Beberapa diantaranya adalah kredivo, tunai kita, danarupiah, rupiah plus dan lain sebagainya. Rate bintang mereka rata-rata diatas 4, yang menandakan bahwa aplikasi ini bagus menurut penggunanya, dan itu terlihat jelas dari sebagian besar testimoninya. Bagaimana tidak menggiurkan, hanya dengan waktu kurang dari 1 jam nasabah bisa mendapatkan dana yang ditransfer langsung ke masing-masing rekening. Unduh aplikasi kemudian pasang, isi data diri, ajukan pinjaman, kalau dinilai layak langsung seketika itu juga dana ditransfer tanpa perlu tanda tangan perjanjian.

Kenapa fintech ini berani memberikan kredit tanpa jaminan? Kata kuncinya adalah pada term “kalau dinilai layak” itu benar-benar subyektif dari penyedia layanan. Apakah mereka melakukan survey tempat? Tidak, melakukan wawancara? Tidak, lantas bagaimana mereka menilai kelayakan tersebut? Ternyata jawabannya ada pada syarat dan ketentuan yang berlaku ketika sudah memasang aplikasi dan mengijinkan aplikasi tersebut mengakses data ponsel. Masyarakat seringkali tergiur dengan kemudahan sehingga lalai dalam memperhatikan info detail dari syarat dan ketentuan yang berlaku ketika aplikasi dipasang. Ternyata syarat dan ketentuannya begitu mencengangkan, yang paling menakutkan adalah dua hal dibawah ini:

  1. Aplikasi akan membaca daftar kontak untuk membangun jaringan sosial pengguna sebagai pertimbangan persetujuan kredit.

Artinya jika jaringan sosialnya baik, maka reputasinya dianggap baik, lantas apa masalahnya? Lingkaran hubungan pribadi kita diintai secara langsung oleh aplikasi yang akhirnya menjadi data layak atau tidaknya kredit diberikan.

  1. Aplikasi akan membaca riwayat telepon untuk memeriksa apabila ada jejak pengguna bermasalah dan menghitung durasi telepon tersebut sebagai pertimbangan persetujuan kredit.

Dapat dikatakan aplikasi ini menjadi semacam alat sadap yang juga blackbox yang akan merekam semua aktifitas komunikasi kita melalui telepon. Jadi kalau diketahui ada masalah terkait dengan finansial ya bisa saja pengajuannya tidak diterima.

Memasang aplikasi fintech sama halnya sudah menggadaikan harga diri, karena dengan memasang aplikasi salah satu dari beberapa penyedia platform aplikasi finteh tersebut artinya sudah menyerahkan semua data diri serta rekam kehidupan sosial dalam waktu tertentu kita sudah menjadikan diri sebagai jaminan.

Maka dari itu jangan hanya tergiur pada kemudahan mendapat dana pinjaman, tetapi lihatlah apa yang akan menjadi resiko dibalik berbagai kemudahan yang ditawarkan tersebut. Pahamilah dengan teliti syarat dan ketentuan yang dimiliki oleh sebuah sistem, karena disitu akan terlihat dengan jelas bagaimana sistem tersebut bekerja untuk melindungi nilai bisnis (hedging).  Mari lebih teliti dan cerdas dalam memanfaatkan kemudahan teknologi yang ada di depan mata kita.

Terkait dengan aspek hukumnya, akan dibahas dalam tulisan berikutnya.

 

*Tulisan ini merupakan opini subyektif yang bukan kajian menyeluruh atas permasalahan hukum yang berkembang saat ini. Untuk mendapatkan informasi yang lebih memadai atas aspek hukum dan praktik terkait isu dalam tulisan ini silahkan menghubungi kami. 

WordPress Lightbox